Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BANGUNAN EKS. STASIUN LASEM

Bangunan Eks. Stasiun Lasem merupakan bangunan bekas stasiun kereta api yang sekarang sudah dinon-aktifkan. Bangunan ini terdiri dari ruang tunggu penumpang dan kantor pelayanan stasiun (ruang tiket), serta dilengkapi dengan fasilitas toilet umum. Ruang tunggu merupakan bangunan berbentuk semi terbuka yang dilengkapi dengan bangku-bangku bergaya klasik. Sementara bangunan kantor stasiun merupakan rangkaian bangunan yang menyatu dengan ruang tunggu. Akan tetapi, perkantoran ini berbentuk bangunan tertutup. Pada bagian depan terdapat pintu masuk yang dibuat melengkung dan pada bagian daun pintunya terdapat bekas lubang loket yang terbuat dari kayu tebal. Beberapa jendela yang terletak pada bagian kantor stasiun mempunyai ukuran besar dengan daun jendela yang disesuaikan dengan kondisi tropis Lasem. Seluruh bangunan pada Stasiun Lasem ini berbentuk arsitektur indis yang diberi sedikit sentuhan aksen Tionghoa. Meski terlihat kusam, bangunan utama stasiun yang terletak di Desa Dorokandang itu masih memancarkan kharismanya. Lengkungan di atapnya menjadi ciri khas yang tidak dijumpai di stasiun manapun.

Stasiun Lasem dibangun pada masa pendudukan Hindia Belanda oleh Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) yang merupakan salah satu perusahaan kereta api dan trem yang mendapat konsesi untuk memasang jalan rel dan mengeksploitasinya sebagai alat angkutan. Stasiun Lasem dibangun berdasarkan surat Penunjukan Gubernur (Gouvernement Besluit) tepatnya tanggal 18 Maret 1881 no 5 SJS.
Stasiun Lasem dibangun pada tahun 1883-1900 dengan luas bangunan Stasiun dan Overkappingnya 70 m2 diatas tanah seluas 29.930 m2. Pada tahun 1989, Stasiun Lasem terpaksa ditutup karena dianggap tidak efisien dikarenakan sudah banyaknya kendaraan angkutan umum yang lewat jalan raya, saat ini area stasiun ini difungsikan sebagai pangkalan truk yang tidak resmi. Pada awalnya kereta yang melintasi Stasiun Lasem hanya difungsikan sebagai alat pengangkut hasil bumi oleh pemerintah Hindia Belanda dan perusahaan kereta api SJS. Tak selang lama, kereta mulai menarik gerbong-gerbong penumpang. Kereta api menjadi moda transportasi utama pada masa itu yang digunakan sebagai alat angkut yang dianggap mampu mengangkut puluhan penumpang dari Lasem ke Semarang.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: