Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bangunan Ruang Mengajar R.A. Kartini

Bangunan Ruang Mengajar RA. Kartini dibangun pada tahun 1852 berdasarkan pada prasasti angka tahun yang terdapat pada bagian atas / lubang angin pintu depan. Sehingga diperkirakan dibangun tidak bersamaan dengan bangunan induk maupun pendopo yang ada di kompleks tersebut. Hal ini dikarenakan bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang biasanya dibangun sebagai pelengkap karena kebutuhan akan ruang dalam sebuah kompleks kawasan. Disamping sebagai ruang yang pernah digunakan untuk mengajar RA. Kartini pada perempuan-perempuan yang berada di sekitar daerah tersebut, ruangan ini dulunya juga telah dimanfaatkan oleh suami beliau yaitu K.R.M. Adipati Ario Djojoadhiningrat yang pada masa itu menjabat sebagai Bupati Rembang untuk mengajar para pejabat Kabupaten yang akan dikirim tugas belajar ke Belanda. Materi utama yang diajarkan oleh Bupati Rembang pada masa itu adalah Bahasa Belanda. Sementara materi pengajaran RA. Kartini berupa pelajaran ketrampilan wanita berupa memasak, menjahit, merajut, membatik dan lain-lain. Namun, pelajaran bahasa dan berhitung juga diajarkan. RA. Kartini beranggapan bahwa disamping wanita harus cakap mengurus rumah tangga, mereka juga harus pandai di bidang ilmu pengetahuan agar wanita dapat menjadi ibu yang cakap dalam mendidik anaknya.

Bangunan dengan denah empat persegi panjang dan memiliki ukuran luas 154 m². Model arsitektur yang digunakan adalah indische empire yaitu perpaduan antara arsitektur Eropa yang berakulturasi dengan arsitektur Nusantara, dikarenakan model arsitektur Eropa hanya cocok untuk daerah dingin sehingga untuk menyiasatinya para perancang bangunan harus bisa menerapkan desain yang adaptif dengan kondisi tropis Indonesia.
Model arsitektur Jawanya terlihat dari bentuk atap yang berbentuk limasan, pintu berbentuk kupu tarung yang terletak di depan dan belakang bangunan, serta dua buah jendela berdaun pintu dua model kupu tarung serasi dengan pintunya. Jendela dan pintu dibuat dengan ukuran tinggi menyesuaikan kondisi tropis daerah Rembang.
Sementara ciri khas Eropanya terlihat dari tiang berbentuk doria yang merupakan ciri khas bangunan abad XIX. Bangunan Ruang Mengajar RA. Kartini ini terlihat kompak dengan bangunan inti di kompleks Museum RA. Kartini. Denah Ruangan terdiri dari tiga bagian yaitu Teras depan, Ruang tengah dan Ruang Belakang. Antara ruang tengah dan belakang diberi sekat dari tembok dengan pintu terbuka model plengkung khas rumah Indis. Ventilasi udara pada bagian belakang bangunan terlihat khas model lubang angin untuk arsitektur rumah Indis. Ditinjau dari aspek estetika bangunan, Ruang Mengajar RA. Kartini memiliki kualitas keindahan sebuah bangunan karena terdapat beberapa detail bangunan yang menjadi ciri khasnya. Sementara apabila ditinjau dari sisi keluarbiasaan dan kelangkaan bangunan dianggap cukup memadai. Hal ini dikarenakan penilaian terhadap kondisi fisik bangunan tersebut dianggap mudah dikenali sebagai ciri bangunan dengan fungsi sederhana atau simple, meskipun tidak memiliki luas bangunan yang cukup besar dan tinggi diantara bangunan lainnya dalam kawasan tersebut, namun bangunan ini terlihat cukup menarik dan mewakili gaya pada masanya. Bagian menarik lain dari bangunan ini adalah bentuk tiang yang menempel pada dinding/tembok bangunan. Bentuk tersebut terletak di bagian belakang.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: