Thong-Thong Lek 2026: Njaga Kerukunan, Njaga Kabudayan
REMBANG – Kemeriahan malam 28 Ramadhan di Kabupaten Rembang sukses memuncak melalui gelaran Festival Thong-thong Lek 2026 yang diselenggarakan oleh Dinbudpar Rembang pada Selasa (17/03/2026). Mengusung tagline "Njaga kerukunan, Njaga kabudayan", festival tahun ini menyuguhkan nuansa nostalgia yang unik dengan tema ala tahun 70-an hingga 90-an. Festival Thong-Thong Lek ini dibuka secara resmi dan khidmat oleh Bupati Rembang, H. Harno, S.E., setelah sebelumnya diawali dengan sambutan hangat dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Drs. Prapto Raharjo, M.H. Meskipun sempat diguyur hujan deras yang membuat jadwal pelaksanaan sedikit mundur dari waktu semula, hal tersebut sama sekali tidak memudarkan semangat 25 kelompok peserta. Antusiasme masyarakat yang menonton pun luar biasa; mereka tetap bertahan dan berdiri di tengah gerimis demi menyaksikan penampilan kreatif para peserta yang melintasi rute dari Perempatan Zaeni sebagai panggung kehormatan, hingga berakhir di Gedung Haji.
Kemeriahan tabuhan musik tradisional penggugah sahur ini terus menggema membelah malam hingga dini hari menjelang waktu sahur di momen H-3 Lebaran tersebut. Setelah persaingan yang sengit namun penuh kebersamaan, pihak dewan juri dan MC langsung mengumumkan daftar pemenang pada malam yang sama. Kelompok Guwe Generation berhasil tampil impresif dan keluar sebagai Juara 1, disusul oleh Laskar Klojawu Banggi Kaliori di posisi Juara 2, dan Purboyo Kuangsan sebagai Juara 3. Sementara itu, gelar Harapan 1 berhasil diraih oleh Anarki Ketanggi, Harapan 2 oleh Warok Siman, dan Remon Mondoteko menutup daftar pemenang sebagai Harapan 3. Festival Thong-thong Lek tahun ini tidak hanya berhasil menjadi hiburan segar yang dinanti, tetapi juga menjadi bukti nyata lestarinya tradisi lokal di hati masyarakat Rembang lintas generasi. Disisi lain festival ini hadir sebagai penawar rindu bagi masyarakat perantauan yang mudik kembali ke Rembang, hal ini menjadikan mereka bernostalgia momen-momen hangat saat berkeliling desa untuk membangunkan sahur di masa lalu.